Cari Blog Ini

Kamis, 03 Oktober 2019

[Review] Occult Forces, Film NAZI bertema Propaganda Anti-Freemason


Freemasonry. NAZI. Dua hal yang telah diketahui orang banyak –tentu, dengan tiap orang memiliki tingkat wawasan yang berbeda akan dua hal itu. Tiap-tiap orang mempunyai pandangan, prasangka dan dugaan masing-masing akan dua hal itu. Dari logo Freemason, lambang Nazi, tokoh seperti Adolf Hitler, dan sebagainya. Dua hal yang telah diangkat ke berbagai novel dan film berbagai genre, misalnya novel The Prague Cemetery atau film Overlord.

Membaca (judul) tulisan ini, bisa jadi untuk pertama kalinya anda mendapat informasi: bahwa NAZI pernah membuat sebuah film propaganda tentang Freemason yang berjudul Occult Forces.

[Di Balik Kamera Occult Forces]

NAZI dan Freemasonry
Poster Occult Forces. Sumber: filmweb.pl
[**Poster di atas menampilkan inisiasi tokoh utama. Baca juga entri lain di blog ini tentang inisiasi: Saya dan Insan-Insan Theosofi IndonesiaINISIASI, Sebuah Sajak Filsafat; Apuleius, Pengembara Romawi yang Berinisiasi ke Kelompok Rahasia Kuno**]

Occult Forces merupakan film yang dirilis pada tahun 1943, tepatnya pada tanggal 10 Maret. Film yang diprosuksi Nova Films ini mempunyai judul asli dalam bahasa Prancis, Forces occultes, karena memang film ini diproduksi oleh para sineas Prancis. Para tokoh film ini juga diperankan oleh aktor dari negara tersebut.

Mungkin anda bertanya: “Loh, kok Prancis? Bukannya NAZI itu Jerman?” Memang demikian, karena sejak Mei tahun 1940, Prancis terbagi menjadi dua bagian akibat kekalahan Sekutu atas Blok Axis pada Pertempuran Prancis. Prancis wilayah Barat dan Utara yang disebut sebagai Zone Occupée dikuasai Jerman, yang kemudian disebut sebagai Zone Nord pada 1942. Sementara wilayah di selatan yang disebut sebagai Zone Libre diduduki Prancis Vichy –nama Vichy merupakan ibukota pemerintahan tersebut.

Wilayah Prancis Vichy. Sumber: alchetron.com
NAZI sendiri selama berkuasa memang menekan Freemasonry, karena pandangan-pandangan (Weltauffassung) Freemasonry dianggap tidak sesuai dengan ideologi NAZI. Enabling Act (Ermächtigungsgesetz) disahkan oleh parlemen Jerman (Reichstag) pada tanggal 23 Maret 1933. Dengan Enabling Act tersebut, pada tanggal 8 Januari 1934, Kementerian Dalam Negeri Jerman memerintahkan pembubaran Freemasonry beserta penyitaan properti-properti dari semua Lodge Freemasonry.

NAZI menyatakan bahwa mereka yang telah menjadi anggota Freemasonry ketika Hitler berkuasa, pada Januari 1933, dilarang memegang jabatan di partai NAZI atau organisasi paramiliternya, dan tidak dapat diangkat menjadi pejabat publik. Para Freemason ditangkap NAZI, dimasukkan ke kamp konsentrasi dan dikenakan simbol segitiga merah terbalik, pertanda bahwa mereka adalah tahanan politik.

Para sineas Occult Forces dan nasibnya
Pada tahun 1942, Propaganda Abteilung, sebuah perwakilan kementrian propaganda NAZI Jerman di wilayah pendudukan, memberi tugas pembuatan film Occult Forces kepada seorang mantan Freemason bernama Jean Mamy.
Jean Mamy. Sumber: networthroom.com
Jean Mamy dalam Occult Forces bertindak sebagai sutradara dengan menggunakan nama samaran Paul Riche. Ia pernah menjadi anggota Freemasonry dari tahun 1931 hingga 1939, tepatnya bergabung dengan Grand Orient de France (GODF), organisasi Masonik terbesar di Prancis. Ia merupakan seorang direktur teater, penulis skenario, aktor, dan jurnalis Prancis. Ia pernah menjadi jurnalis di L'Appel yang dipimpin oleh Pierre Constantini, sementara Constantini juga merupakan pemimpin French League, kelompok kolaborasionis-NAZI. Mamy juga pernah menjadi jurnalis pada sebuah media anti-Semit kolaborasionis-NAZI yang bernama Au pilori.
Jean Marquès-Rivière. Sumber: fr.wikipedia.org
Jean Mamy dibantu oleh seorang mantan Mason lainnya bernama Jean Marquès-Rivière yang bertindak sebagai penulis naskah. Sewaktu muda, ia sudah tertarik dengan Buddhisme Tibet dan theosofi, dan pada tahun 1936 ia pernah menimba ilmu beberapa bulan di India. Sebelum meninggalkan Freemasonry, Marquès-Rivière sendiri pernah menjadi anggota Freemasonry sekitar tahun 1920-an, tepatnya anggota organisasi Masonik terbesar kedua di Prancis, Grande Loge de France (GLDF). Pada tahun 1941, ia pernah mengadakan pameran La franc-maçonnerie, fossoyeuse de la paix, pameran tentang “bahaya Freemason”, bersama jurnalis Prancis anti-Mason lainnya, Jacques Bouly de Lesdain(1880-1975).

Selain Jean Mamy dan Jean Marquès-Rivière, yang turut ambil bagian dalam pembuatan Occult Forces adalah nama-nama berikut ini:
Robert Muzard sebagai produser
Jean Martinon sebagai penata musik
Marcel Lucien sebagai sinematografer
Pierre Grean sebagai penyunting film
Lucien Lacharmoise sebagai penyunting suara
Mary sebagai dekorator set

Sedangkan karakter-karakter film diperankan oleh para aktor berikut ini:
Maurice Rémy sebagai Pierre Avenel
Marcel Vibert
Auguste Bovério sebagai Bovério
Gisèle Parry sebagai Nyonya Avenel
Léonce Corne
Pierre Darteuil
Marcel Raine
Louise Flavie
Simone Arys
Colette Darfeuil
Henri Valbel

Saat NAZI menyingkir dari Jerman, Jean Mamy dituduh sebagai pengkhianat negara, dikenai hukuman mati dan dieksekusi pada tanggal 29 Maret 1949. Produser Robert Muzard dan penulis Jean Marquès-Rivière juga dikenakan tuduhan yang sama. Muzard dijatuhi hukuman 3 tahun penjara pada 25 November 1945.

Sementara Marquès-Rivière yang telah melarikan diri diadili in absentia dan ditetapkan statusnya sebagai Indignité nationale. Ia mencari perlindungan dan hidup di Spanyol di era rezim Jendral Franco. Pada tahun 1985 ia mempublikasikan buku berjudul Kalachakra-Initiation tantrique du Dalaï-Lama (Kalachakra-Tantric Initiation of the Dalai Lama). Jean Marquès-Rivière meninggal pada tahun 2000 di Lyon.

Aktor utama Maurice Rémy, pada awal Perang Dunia II pernah ambil bagian di film anti-NAZI berjudul Untel père etfils (Father and Son) tahun 1940. Namun selama masa pendudukan NAZI, ia menjadi kolaborasionis Jerman. Film Occult Forces menjadi film terakhirnya sebelum ia berpindah ke Argentina pada tahun 1949. Sekitar tahun 1950-an, ia kembali ke ke Prancis dan menjadi sound engineer beberapa film. Ia meninggal pada April tahun 1973.

Para aktor lain Forces occultes, dari pantauan saya di situs imdb, masih melanjutkan karir mereka dan berkarya di film-film lain. Gisèle Parry misalnya, menjadi aktris di film tahun 1946 berjudul La troisième dalle, menjadi pengisi narator di film pendek tahun 1949 Cartes sur table, berperan di seri TV La joie de vivre tahun 1953, dan menjadi produser seri TV tahun 1966-1967 Vient de paraître.

[Review Occult Forces]

1/4 jalan cerita Film
Poster lain Forces Occultes. Sumber: radioaryan.com
Film propaganda ini menggunakan skenario fiksi, bercerita tentang seorang anggota parlemen Prancis bernama Pierre Avenel yang bergabung dengan Freemasonry. Dikisahkan, setelah menjadi Mason, ia kemudian menyadari bahwa para Freemason berkonspirasi dengan orang-orang Yahudi dan negara-negara Anglo-Amerika untuk mendorong Prancis berperang melawan Jerman.

Film ini telah menjadi public domain, jadi anda bisa googling bila ingin menontonnya –Forces Occultes dengan subtitle bahasa Inggris telah tersedia juga. Saya sudah mencari di layanan streaming seperti netflix dan tidak mendapati adanya film ini, dan saya ragu akan ada layanan streaming yang ingin menayangkannya. Saya menemukan ada yang menjual DVD film ini di amazon.com, meskipun stoknya telah habis. Berdurasi 51 menit 34 detik, saya akan menuliskan cerita dari awal hingga menit ke 12:40, atau sekitar seperempat film.

Film hitam-putih ini diawali dengan opening credit atau kredit pembuka film, dan bersamaan dengan bagian ini ditampilkan scene seekor laba-laba dengan lambang Freemasonry terbalik. Setelahnya, muncul sebuah tampilan peta dunia yang terbagi menjadi tiga wilayah sphere of influence: wilayah Soviet, wilayah Inggris, dan wilayah Amerika. Kemudian, tiga wilayah tersebut berubah menjadi satu sphere of influence saja: menunjukkan seluruh dunia dikuasai oleh pengaruh Yahudi-Masonik.

Tayangan kemudian beralih menyorot Chamber of Deputies, atau Majelis Rendah –di Indonesia setara dengan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Divisualkan suasana di Chamber of Deputies tersebut berbanding terbalik dengan DPR Indonesia, alias: para anggota Chamber of Deputies memenuhi tempat kerjanya untuk melaksanakan tugasnya.

Di hadapan para para anggota parlemen inilah, si tokoh utama, Pierre Avenel berpidato berapi-api. Di atas mimbar ia mengecam dan memaki-maki dua kelompok berpengaruh saat itu: kapitalis dan komunis. Avenel menyatakan pendiriannya: ia berpendapat Prancis tak perlu ikut konflik antara komunis dan kapitalis.  Tak ayal, ia mendapat reaksi teriakan dan hingar-bingar. Saya tertawa pada bagian ini, dan saya berpendapat mungkin bagian ini bisa dijadikan bahan meme, khususnya dari reaksi dua bapak ini:

Duo bapak meme
Setelah giliran bicara Avenel selesai, dua orang Mason yang duduk bersebelahan bernama Dubois dan Dedon mengobrol, dengan memanggil masing-masing dengan sebutan “brother”. Mereka membicarakan si tokoh utama, menyebut bahwa Avenel memiliki bakat dan kecerdasan.

Dubois yang mengira Avenel seorang Mason bertanya, “Dari Lodge mana dia berasal?” Dedon menjawab bahwa Avenel bukan seorang Mason, yang ditanggapi oleh Dubois bahwa Avenel harus “dididik” dan diajak bergabung dengan Freemasonry. Dedon setuju dan berpendapat bahwa hal tersebut harus dilakukan dengan hati-hati, lalu ditanggapi Dubois bahwa Mason lainnya yang bernama Lariviere merupakan orang yang tepat untuk membujuk Avenel.

Dubois pergi meninggalkan parlemen, sementara Dedon gercep mendatangi Lariviere yang ternyata posisi kursinya hanya beberapa langkah. Membicarakan Avanel, Lariviere setuju bahwa Avanel harus di-inisiasi menjadi Freemason, secepatnya.

Tak lama, Lariviere bertemu dengan Avenel. Menyampaikan bahwa Avenel telah berpidato dengan luar biasa, mereka melanjutkan obrolan. Rupanya, Avenel telah penasaran dengan Freemasonry dan telah berbincang dengan Lariviere tentang kelompok tersebut sebelumnya. Pada obrolan yang sekarang, Avenel berkata ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan secret society¸ yang ditanggapi Lariviere bahwa Freemasonry bukanlah secret society, melainkan discreet society.

Adegan berlanjut ke rumah Avenel, menampilkan ia dan istrinya membicarakan Freemasonry. Avenel berpendapat bahwa bacaan yang telah Freemasonry berikan kepadanya “is full of good ideas”. Istrinya, meskipun tidak senang bila Avenel menjadi Mason, mempersilakan keputusan Avenel. Avenel memberi tahu tak lama lagi ia akan datang ke Lodge, pada hari Rabu.

Pada hari perjanjian, di dalam Lodge para Mason membicarakan profil dan latarbelakang Avenel, siapa Brother Mason lain yang merekomendasikan Avenel; mereka juga bersiap mewawancari Avenel. Avenel yang menunggu, kemudian diantar masuk seorang Mason dengan matanya ditutup. Mason pengantar mengetuk suatu pintu dan bicara kepada Mason-Mason lain di dalam bahwa kandidat baru siap untuk ditanyai. Dengan masih berpenutup mata, Avenel didudukkan di kursi di tengah para Mason. Hanya ada satu pertanyaan yang ditampilkan dalam film: “Apakah kamu percaya Tuhan? Dan mengapa?”

Di kemudian hari, Avenel mengobrol dengan Lariviere perihal wawancarakerjanya dan apakah Avenel akan disetujui untuk di-inisiasi-kan. Lariviere menyampaikan bahwa Avenel mendapat suara 16 dibanding 10(2 orang yang menolak, sementara untuk tiap penolakan mempunyai bobot 5). Pada kesempatan itu, Lariviere menyatakan bahwa “the average Masons, are terribly mediocre,” juga bahwa banyak Mason sendiri menganggap ritual kuno yang mereka jalankan merupakan hal yang lucu.

Pada akhirnya, Avenel menerima undangan inisiasi Freemasonry, dari Grant Orient de France. Proses inisiasi Avenel ditampilkan dengan adegan para Mason yang saling memberi salam dan berjabat tangan sebelum masuk ke loji Freemasonry.

Beberapa adegan lanjutan Film
Mengambil durasi sekitar 13 menit, bagaimana proses inisiasi Avenel ditampilkan? Bagaimana kisah Avenel selanjutnya setelah menjadi Freemason? Bagimana reaksi Avenel setelah mengetahui –sesuai yang tertulis di awal– Freemasonry berencana mendorong Prancis bertempur dengan Jerman? Apakah Freemasonry diceritakan berhasil menjalankan rencananya?

Saya akan menambahkan potongan dialog antara Avenel dengan seorang Mason, yang mungkin dapat menambah rasa penasaran bagi anda untuk menyaksikan film ini:
Mason: What is Masonry? Groups of men who are united from the corners of the earth, wrapping the world in a network of unbreakable links. There are 50.000 of us in France, 500.000 in England, 3.000.000 in America. It’s not many but it’s a huge number because we form a united front for one cause. We spread everywhere, we have control everywhere. Here, 300 parliamentarians are Masons. In England the King is part of our order, in the USA the president is at the 32 level. There is no country where we do not have our secret supporters, our men, our banks, our devoted groups. And that’s nothing. I'm only telling you if the physical strength of Freemasonry. There is perhaps something else.....
Avenel: But what?
Mason: A superior doctrine. An ancient power in the world which allows us to push people sometimes towards life, sometimes towards death, as is necessary.
Avenel: Death? But i though that Masonry stood for peace.
Pendapat saya
Kalau dibandingkan dengan film-film era sekarang yang saya tonton, akting para aktor Forces Occultes cenderung datar dan kurang memberikan kesan yang mendalam. Musik yang digunakan juga kurang memikat, dan pada beberapa titik justru terasa mengganggu. Tapi tentu, kekurangan akting dan musik itu wajar mengingat film ini diproduksi tahun 1940-an, tak sampai menyurutkan keinginan saya menonton film sampai habis.

Dari sisi sinematografi, ada dua hal yang menurut saya menarik. Pertama, saat film ini menonjolkan elemen bayangan manusia dalam beberapa adegannya –misalnya saat para Mason membicarakan Avenel sebelum ia diwawancara atau saat Avenel berada di loji menunggu untuk diinisiasi. Kedua, saat kamera berputar 360 derajat secara perlahan menyorot ruangan dan para Freemason begitu Avenel sah dinyatakan menjadi Mason.

Adegan inisiasi Avenel juga menurut saya adalah hal paling menarik dari film ini. Menghabiskan waktu sampai sekitar seperempat durasi film, namun menurut saya hal tersebut tidak terasa sebagai cara untuk mengulur-ngulur jalan cerita. Setiap detil proses layak untuk disimak detik demi detik. Saya pikir, dalam hal ini, pengalaman sutradara dan penulis naskah sebagai mantan Freemason dapat dimanfaatkan dengan baik.
Alexandre Stavisky. Sumber: en.wikipedia.org
Sebagai film propaganda, film ini juga memasukkan unsur sejarah yang nyata terjadi: skandal yang melibatkan direktur bank Prancis keturunan Rusia yang bernama Serge Alexandre Stavisky(1886–1934). Diceritakan bahwa Stavisky adalah seorang dan Freemason (meski sebenarnya bukan), dan meski Mason lain tahu ia berkelakuan buruk, mereka membiarkan tindakannya. Stavisky Affair dalam film ini –tentu saja– digambarkan sebagai dampak buruk Freemasonry bagi masyarakat: bahwa Freemasonry adalah kelompok egois yang dipenuhi orang-orang koruptif dan manipulatif yang hanya peduli pada anggota mereka saja.

Occult Forces menyampaikan kepentingannya tanpa tedeng aling-aling. Dengan terbuka dan terang-terangan, film ini berkata –meminjam frase yang cukup dikenal di Indonesia: “Ini pasti ulah Yahudi-Freemasonry, organisasi penguasa dunia yang begitu kuat”. Terkesan banal dan tak membawakan pesan-pesan simbolis dan subtle, bandingkan misalnya dengan film Indonesia baru-baru ini: “SegitigaDua Garis Biru”.  

Saya tidak tahu, mungkin, cara seperti ini justru cocok untuk penonton di era 1940-an. Film propaganda, bisa dikatakan berhasil apabila film tersebut bisa membuat penontonnya tak lagi berpikir kritis. Mungkin, jalan cerita yang disuguhkan “tanpa bumbu” lebih dapat membuat penonton di era dulu mengiyakan pesan film. Mungkin dengan cara penyampaian pesan itu penonton era sebelum-now tersebut tak menjadi bertanya, “Apa iya Freemasonry begitu mudahnya mengendalikan sesuatu negara? Apa iya tiap Freemason bisa begitu kompak akan pandangan politik mereka?”

Tentu saja, cara film ini tidak berhasil bagi saya, seorang manusia 2019 dengan akses informasi yang lebih baik dibanding manusia 1940-an. Namun, saya sendiri sebenarnya juga penasaran, bagaimana tepatnya efek film ini pada masyarakat Prancis. Apa efeknya bila dibandingkan dengan film lain –katakanlah misalnya film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI?

Dengan segala kekurangannya, film ini tetap memiliki keunikan sendiri. memberikan informasi (dalam hal ini khususnya inisiasi seorang Freemason) dengan caranya sendiri. Saya berpendapat, Occult Forces bisa mendapat predikat sebagai film “nanar ­sebutan bahasa Prancis untuk cult movies.

Bagaimana pendapat anda bila sudah menonton film ini? Mungkin akan seperti menonton film dokumenter National Geographic? Mungkin serasa film jelek-tapi bagus seperti Azrax? Atau serasa menonton horor seperti Midsommar? 😀



Epilog
- Spanyol, meski tidak turun langsung pada Perang Dunia II, menjalin hubungan dan bekerja sama dalam tingkat tertentu dengan blok Axis.
- Jenderal Francisco Franco Bahamonde, yang berkuasa di Spanyol pada tahun 1907-1939 memang dikenal dengan kebijakan anti-Masonry, meskipun ia sendiri memiliki saudara bernama Ramón Franco Bahamonde yang merupakan seorang Freemason.
- Saya berpendapat pengisahan pengaruh Freemasonry yang ditampilkan film Occult Forces absurd dan melebih-lebihkan. Namun saya (emang siapa sih RK Awan?👦) berpendapat  keberadaan/kemunculan Freemasonry juga bukan suatu hal yang tidak penting atau tak berpengaruh. Mungkin, saya akan menulis pendapat saya ini lebih lanjut.
-Saya membuat thread di Kaskus untuk membahas film-film yang dibuat di era Perang Dunia II. Selain Occult Forces, ada beberapa film lagi, misalnya film kartun Donal Bebek untuk propaganda anti-Nazi dan anti-Hitler. Bila tertarik menyimak atau berkomentar, silakan klik tautan ini: [Share & Diskusi] Film-Film di Era Perang Dunia II


1 komentar:

  1. menarik membahas mengenai freemansory yg dulunya hanya sebuah organisasi biasa, tp kenapa skrg begitu hati2 ya orang2 membahas hal ini?

    BalasHapus